Bangunan seluas 1150 m2 yang memiliki konsep awal museum dan garden ini, mengacu pada teori analogi biologis, lebih tepatnya organik. Bangunan ini berkembang dari dalam ke luar dan ingin menampilkan interior ke luar bangunan sebagai sarana menyatukan bangunan dengan alam sekitar.

Museum yang terletak di negara Denmark ini, memakai material berupa beton in-situ black lava, baja, dan kaca. Struktur yang digunakan adalah gabungan struktur rangka dan membran.

Kekhasan museum ini adalah tetap dipertahankannya bangunan lama sebagai bangunan utama dan landscape sekitar.

Dari segi lighting, terdapat perpaduan pencahayaan alami dan buatan di mana pencahayaan alami lebih kuat; segi penghawaan juga seperti pada pencahayaan, ada yang alami dan buatan. Interior pada bangunan ini memiliki kesan light atau ringan. Hal ini dikarenakan penggunaan elemen pengisi dan pelengkap yang ringan. Penggunan elemen-elemen yang tidak terlalu berat ini dipakai karena pada beberapa bagian fasade terdapat kaca yang ditopang baja-baja disusun grid yang menimbulkan kesan berat. Sehingga untuk memperingan kondisi tersebut, dipakailah elemen-elemen yang terkesan ringan.

Selain dari analisa di atas, bangunan termasuk bangunan post-modern karena permainan-permainan yang berani yang ditunjukkan pada beberapa sudut ruangan yang kurang ditunjukkan pada arsitektur gaya modern. Permainan tersebut salah satunya adalah kaca lengkung yang mengikuti bentuk dindingnya.
05.50 |
Posted in
Dekonstruksi,
Museum,
News Update,
Projects,
Zaha Hadid
|
Read More »

Bangunan seluas
11000 kaki ini berfungsi sebagai
galeri seni, pusat pendidikan seni anak, tempat pertunjukkan seni yang dilengkapi toko buku dan cafe.
CAC memiliki analogi romantik karena bentuknya yang dinamis seperti puzzle dengan perbedaan level. Tingkat kompleksitas dan kontradiksi bangunan ini cukup tinggi dibanding sekitar, hal ini merupakan salah satu indikator bahwa CAC bangunan post-modern.
Bangunan post-modren ini dikelilingi oleh gedung-gedung bergaya modern yang bentuknya cenderung kotak-kotak dan statis, sehingga CAC yang berkomposisi linear horisontal terlihat menonjol dan dinamis, dimana ke-dinamis-an yang terlihat merupakan hasil dari permainan ruang dalam yang kemudian mempengaruhi fasade luar.

CAC menerapkan salah satu teori Wtelo yakni ‘difanitas’ atau kesemrawangan. Penerapannya pada dinding transparan yang materialnya berupa kaca.
Sebagai bangunan yang beraliran post-modern, CAC masih kontekstual yang diimplementasikan pada variasi bentuk yang meerupakan perpaduan antara bangunan modern (bangunan lama) dan post-modern (CAC).
Dalam hal aksesibilitas, ruang-ruang CAC mudah dijangkau pengunjung. Kemudahan akses tersebut didukung dengan adanya ramp sebagai sarana penghubung antar-ruang.
CAC merupakan salah satu bangunan yang menerapkan tekonlogi yang cukup maju. Hal ini dapat dilihat pada konstruksi ruang galeri yang seolah-olah melayang di atas ruang lobi, penggunaan kantilever-kantilever, dan fasade samping yang multi-level.

Dalam hal aksesibilitas, ruang-ruang CAC mudah dijangkau pengunjung. Kemudahan akses tersebut didukung dengan adanya ramp sebagai sarana penghubung antar-ruang.
CAC merupakan salah satu bangunan yang menerapkan tekonlogi yang cukup maju. Hal ini dapat dilihat pada konstruksi ruang galeri yang seolah-olah melayang di atas ruang lobi, penggunaan kantilever-kantilever, dan fasade samping yang multi-level.
01.04 |
Posted in
Dekonstruksi,
News Update,
Projects,
Zaha Hadid
|
Read More »
Zaha Hadid lahir di
Baghdad Irak, 31 Oktober 1950. Arsitek yang secara konsisten menyatukan wilayah arsitektur dan desain perkotaan. Karyanya penuh dengan eksperimen ruang yang berkualitas, memperluas dan mengintensifkan lanskap yang ada untuk memenuhi visi estetika yang mencakup semua bidang desain, mulai dari skala kota sampai ke produk,
interior dan furniture.Semula, Zaha masuk jurusan Matematika di
American University Beirut sebelum pindah di
Architectural Association London 1972 dan memperoleh D
iploma Prize pada 1977. Menjadi mitra kerja
Dinas Metropolitan Arsitektur, dan belajar di
AA dengan kolaborator
OMA Rem Koolhaas dan Elia Zenghelis.

Kemudian memimpin sendiri studio AA sampai 1987. Sejak itu dia menjabat sebagai Pemimpin
Kenzo Tange di Graduate School of Design, Harvard University, dan University of Chicago School of Architecture.
Professor tamu pada Hochschule für Bildende Künste di Hamburg, The Knolton Architecture School, Ohio dan Studio Master di Columbia University, New York.

Ia menjadi
Visiting Professor Eero Saarinen dalam Desain Arsitektur untuk Semester Musim Semi 2002 di
Yale University, New Haven, Connecticut. Beliau juga menjadi anggota kehormatan
American Academy of Arts and Letters dan Fellow of the American Institute of Architecture. Saat ini sebagai Profesor di
Universitas Seni Terapan di Wina.Zaha termasuk Arsitek beraliran
Deconstrucsivism-Neo Constructivist.Menurutnya bangunan harus dirancang dari pemikiran-pemikiran berikut :
1. Bangunan adalah projek percobaan yang tidak pernah selesai, sehingga selalu menghasilkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Bahkan dimungkinkan bentuk masa datang (future). Karenanya dia juga disebut
Arsitek Futurist.
2. Berarsitektur adalah bereksperimen tentang seni arsitektur yang bebas dengan ide-ide yang baru sama sekali. Karenanya ia juga disebut menganut aliran Russian Suprematism, suatu aliran yang mengawali dekonstruksi pada umumnya: ”Melawan masa lampau”, seperti seniman yang melawan sesuatu yang natural.
3. Bangunan harus dapat menampilkan ide yang masih berupa fantasi bentuk abstrak dari pengarangnya ke dalam suatu bentuk nyata bangunan itu sendiri. Dari contoh ini tampak bentuk abstrak dari aliran yang masif. Dilihat dari sisi ini Zaha juga termasuk seorang Constructivist.
4. Bangunan harus dapat memancing emosi dan imajinasi dari tiap-tiap orang yang melihatnya. Untuk memancing emosi dan imajinasi, pada bangunan ini, Zaha menggunakan eleen-elemen garis horisontal dominan yang dinamis dan ringan yang dikenal flying beam. Karenanya ia juga dijuluki sebagai arsitek dekonstruksi aliran anti-gravitational space. Banyaknya balok yang melayang menciptakan bangunan seolah-olah tidak ada yang menopang semakin menambah cirri khas dekonstruksi bangunannya.
5. Bangunan adalah pemersatu ruang dalam dan ruang luar . Antara bangunan dan lingkungan sekitar, merupakan kesatuan yang utuh dan saling melengkapi.
6. Bangunan adalah tempat untuk melaksanakan aktifitas yang berbeda-beda. Karena itu, maka bangunan juga terdiri dari elemen-elemen atau bentuk yang berbeda dan disatukan oleh sistem sirkulasi dengan penonjolan sistem konstruksi.
7. Pembedaan aktifitas dilakukan dengan pembedaan elemen-elemen bangunannya yang untuk menghindari kesan monoton.
23.15 |
Posted in
Architects,
Zaha Hadid
|
Read More »

Selama ini perpustakaan identik dengan tempat yang membosankan. Tapi coba perhatikan Opus Tower berikut ini yang dirancang oleh Arsitek wanita yang memenangkan Pritzer Prize pada tahun 2004 lalu
Zaha Hadid, direncanakan akan rampung pada tahun 2010. Dubai, United Arab Emirates tak pernah kehabisan akal untuk mempercantik kota mereka dengan berbagai design arsitektur yang spektakuler.

Opus Tower dibangun dengan tiga menara secara terpisah sehingga secara keseluruhannya menara tersebut akan digabungkan menjadi sebuah bangunan utuh. Menara tersebut terhubung dengan beberapa bagian unik yang dibiarkan kosong yang akan menarik perhatian anda. Opus tower akan diselimuti dengan kaca-kaca yang berfungsi mengurangi panas matahari yang masuk ke dalam gedung.
Presiden CEO, Mehdi Amjad, mengatakan projek mega Opus ini mengkombinasikan seni dan penampilan dari bentuk dan fungsinya. Lokasi yang strategis, eksterior yang menarik dan fasilitas ruang yang berjarak membuat proyek Opus menjadi pertimbangan strategis investasi untuk para investor.

Rencana pembangunan lantai perpustakaan ini setinggi 1.7 juta kaki dan dilengkapi dengan 22 ruang untuk kantor dan komersial. Dengan design 17 level ruang kantor, 4 level ruang penjualan, kawasan ruang istirahat dan taman atap seukuran lima basement. Bentuk bangunan Tower Opus menjadi standar global yang unik untuk bisnis di Dubai.
06.43 |
Posted in
High Tech Architecture,
Projects,
Tower,
Zaha Hadid
|
Read More »